Home / BERITA TAPANULI / Pea Porohan di Salaon Toba Simpan Kisah Mistis

Pea Porohan di Salaon Toba Simpan Kisah Mistis

Share This:

PANGURURAN, SAMOSIRGREEN.COM, Pea Porohan terletak di Desa Salaon Toba, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Lokasi ini diketahui menyimpan kisah dan nilai mistis yang lumayan menggidikkan.

Pea yang berseberangan dengan Danau Sidihoni (danau di atas danau) itu, memiliki luas kurang lebih sekitar enam hektare dan sudah berumur 150 tahun.

Lebih jauh cerita dan kisah Pea Porohan ini, P Sitanggang (43), salah seorang tokoh masyarakat Huta Lumban Gur-gur, Desa Salaon Toba, merupakan sosok yang diakui warga sekitar mengetahui seluk beluknya.

Ditemui pada Rabu (8/11/2017), Sitanggang bertutur, Pea Porohan terjadi dari porohan (perasan) tujuh Mual Hariara (mata air pohon beringin) marga Sitanggang Lipan yang mengalir, persis di atas perbukitan Pea Porohan.

“Dulu ada tujuh mual di pepohonan marga Sitanggang Lipan, yang persis di atas perbukitan Pea Porohan. Dan suatu ketika, mual itu mengering. Airnya mengalir ke Pea, sehingga kami sebut Pea Porohan,” terangnya.

P Sitanggang

P Sitanggang

Sitanggang menyebut, kalau berkunjung ke tempat ini tak boleh sembarangan. Harus bersikap sopan dan etika berbicara yang baik supaya tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

“Karena dari tahun 90-an sudah ada lima orang yang meninggal di Pea ini. Padahal dulu kedalamannya hanya sekitar setengah meter,” ungkap Sitanggang.

Unsur paling mistis, tepat di tujuh mual pepohonan tersebut, dipercaya merupakan tempat arwah orang yang meninggal bersemayam.

Para arwah tersebut akan mengadakan rapat ketika ada warga sekitar yang hendak meninggal dan ada orang yang sembarangan di lokasi Pea tersebut.

Arwah yang bersemayam akan memberikan teguran atau pertanda lewat mimpi dan kejadian janggal. Sampai saat ini, keberadaan arwah para leluhur yang bersemayam di pepohonan marga Sitanggang Lipan itu masih diakui warga sekitar.

“Ketika ada warga yang melanggar dalam arti berperilaku tak baik, maka arwah yang bersemayam di tempat tersebut marrapot (rapat, red). Akan memberikan peringatan kepada warga lewat mimpi dan kejadian janggal di tempat sekitar dan ketika peringatan itu diabaikan, orang tersebut akan meninggal,” terangnya.

Saat musim kemarau panjang melanda kawasan itu, warga setempat selalu melakukan acara ritual “Manjou Udan” (memanggil hujan, red) di Pea Porohan. Ritual itu sering dilakukan di bawah tahun 60-an.

Dengan menyajikan Nitak Nadihulhulan Andalu, Nitak Gurgur dan Pangurason, para boru ni raja akan pergi ke tempat Pardinggara yang tak jauh dari Pea Porohan untuk mengumpulkan bakkurung (belalang, red) dengan tak memakai sehelai kain pun.

Sesampai di sana, boru ni raja melanjutkan perjalanan ke Sigutti-gutti dan kembali ke Pea Porohan. Sesampai di Pea Porohan, para boru ni raja saling membasahi tubuh dengan tangan dan kaki sekaligus mengucapkan bahasa memanggil roh untuk mendatangkan hujan.

Di sela acara ritual, tak diperbolehkan laki-laki untuk melihat boru ni raja. Laki-laki harus tenang mendiamkan diri di rumah. Ketika ada laki-laki yang melihat boru ni raja, maka dengan kondisi siar- siaron (kesurupan, red) boru ni raja akan mengejar si laki-laki sampai dapat dan mamoros (memeras, red) alat kelaminnya.

“Pernah kejadian ada pendatang (laki-laki) melintas dari Pea Porohan ini berketetapan acara ritual dan langsung dikejar-kejar boru ni raja dengan memeras alat kelamin si pendatang, hingga meninggal di tempat,” ungkapnya.

Sisi yang lain, sebelah timur Pea Porohan dulunya terdapat lubang terowongan yang tembus hingga ke Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo.

Jadi, tutur Sitanggang, sebelum Pea Porohan ini memiliki debit air yang tinggi, tepat di sebelah timur terdapat lubang terowongan yang tembus hingga ke Desa Ambarita. Para tetua dulu, menggunakan terowongan tersebut sebagai alat mengirim surat, sebelum ada kantor pos.

“Warga yang hendak mengirim surat, terdahulu memasukkan surat ke dalam “tabu” (labu, red) dan memasukkannya ke dalam lubang terowongan itu. Sekarang, terowongan tersebut sudah tidak nampak lagi,” ungkapnya.

Selain sisi mistisnya, diketahui Pea Porohan sangat banyak manfaatnya bagi masyarakat sekitar. Warga menggunakan Pea Porohan sebagai sumber air minum, bertangkap ikan dan kebutuhan lainnya. (Sg06) 

About Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top