Home / BERITA TAPANULI / Hau Hariara Jadi Batas Sabungan Nihuta dan Paraduan

Hau Hariara Jadi Batas Sabungan Nihuta dan Paraduan

Share This:

Pertemuan para Raja Bius dan perangkat desa.

Pertemuan para Raja Bius dan perangkat desa.

RONGGUR NIHUTA, SAMIOSIRGREEN.COM-Akhirnya pilar atau batas Desa Sabungan Nihuta dengan Desa Paraduan, Kecamatan Ronggurnihuta, Samosir disepakati Raja Bius berupa Hau Hariara atau pohon beringin.

Ini bermula saat pengetua adat Raja Bius Sitolu Hae Horbo Sabungan Nihuta bersama Bius Si Ualu Tali dan warga mengadakan pertemuan di rumah Marjuang Naibaho Partungkot Silali di Desa Sabungan Nihuta.

Pertemuan itu untuk membicarakan dan menelusuri batas desa antara Sabungan Nihuta dengan Paraduan, baru-baru ini. Hadir di sana raja bius, kepala desa, serta aparat desa masing-masing dari tiga desa yaitu Lintongnihuta, Paraduan dan Sabungan Nihuta.

Dalam pertemuan, diberikan kesempatan marga Sitanggang, Simbolon dan Naibaho menjelaskan apa saja yang menjadi patokan yang dibuat orangtua terdahulu dan sampai dimana disepakati batas, antara Bius Si Tolu Hae Horbo Sabungan Nihuta, dengan bius tetangga lainnya.

Pada umumnya batas dibuat tanda berupa batu atau Hau Hariara (pohon beringin) dan ada juga Gonting (lokasi yang berbentuk berbentuk pinggang), yang dapat dilihat sebagai pemisah antara bius yang satu dengan bius lainnya.

Dimana dulunya, dengan pesan berupa turi-turian (cerita) dari bapak ke anak, secara terus menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti mata rantai yang berkepanjangan. Sehingga sampai ke generasi sekarang ini masih tetap tak berubah dan disepakati dibuat menjadi patokan.

Dengan penjelasan masing-masing dari raja bius, ke tiga marga tersebut dan kepala desa maupun perangkat desa, disimpulkan tanda atau batas antara bius pasti ada dan disepakati akan mandege-dege (menelusuri) batas tersebut ke lokasi.

Selanjutnya dengan adanya kesepakatan bersama seluruh pihak yang hadir beranjak ke lokasi guna melihat fakta yang diceritakan oleh bius.

Di sana ditemukan ada tanda perbatasan yaitu Hau Hariara (pohon beringin) yang termasuk kategori sudah tua dan Batu Magulang (batu tanda yang digulirkan).

Dengan ditemukannya tanda tersebut, maka pengetua raja bius menetapkan perbatasannya adalah pohon beringin yang ditemukan di lokasi.

Sebagai kesepakatan bersama, seluruh yang hadir langsung berdoa bersama atau Martonggo (berikrar/berjanji).

Para pengetua di depan peserta menegaskan bahwa pohon tersebut resmi menjadi pilar atau tanda perbatasan yang sah. (Sg14)

About Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top