Home / BERITA TAPANULI / Diduga Aniaya Napi Sampai Tewas, Mantan Ka Rutan Humbahas Disidangkan

Diduga Aniaya Napi Sampai Tewas, Mantan Ka Rutan Humbahas Disidangkan

Share This:

Mantan Ka Rutan Kelas II B Humbahas, Eduard Sunitro Simatupang tengah duduk di kursi pesakitan PN Tarutung

Mantan Ka Rutan Kelas II B Humbahas, Eduard Sunitro Simatupang tengah duduk di kursi pesakitan PN Tarutung

DOLOK SANGGUL,SAMOSIRGREEN.com – Akibat tewasnya seorang Napi Narkoba, Rahmatsyah Nasution di Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Humbang Hasundutan (Humbahas), Selasa (25/4/2017) lalu, penyidik dari Polres Humbahas limpahkan empat tersangka sebagai dalang penganiayaan yang menyebabkan kematian Napi Narkoba diatas  kepada Kejari Humbahas untuk di sidangkan.

Empat tersangka itu yakni, mantan Kepala Rutan Eduard Sumitro Simatupang, Sahril pegawai Rutan, Jekson Manalu (napi kasus pembobol Bank BRI cabang Lintong Nihuta) dan Tarigan (napi kasus narkoba).

Dalam sidang ke II di pengadilan PN Tarutung yang bertempat di Dolok Sanggul, mantan Ka Rutan Eduard Sumitro Simatupang melalui kuasa hukumnya Timbul Tambunan mengajukan eksepsi (pembelaan) namun dalam sidang agenda putusan sela, hakim menolak eksepsi terdakwa.

Ketua Mejelis hakim, Hendra Widodo Sipayung didampingi hakim anggota Sabaro Zendrato, Fausan, dalam sidang agenda putusan sela, di PN Tarutung, Kamis (9/11) di Dolok Sanggul,menyatakan bahwa eksepsi ditolak dan tidak diterima dan perkara dilanjutkan.

Kemudian,  majelis hakim berpendapat untuk melanjutkan perkara tersebut.  Dan meminta jaksa penuntut umum (JPU) melanjutkan sidang pokok perkara dengan menghadirkan saksi-saksi.

“Memerintahkan penuntut umum melajutkan pemeriksaan  perkara atas nama Eduard Sumitro dan menangguhkan biaya putusan putusan akhir,” tambah hakim Hendra Widodo.

Berdasarkan keputusan tersebut,  perkara dilanjutkan dengan agenda mendengar keterangan saksi. Sidang rencana dilanjutkan pada 16 November mendatang.

Usai sidang putusan sela,  kuasa hukum terdakwa, Timbul Tambunan saat dimintai tenggapannaya, mengaku menerima putusan hakim tersebut. Hanya saja dakwaan jaksa menurutnya kurang jelas dan kurang cermat.

Dalam eksepsi itu kita jelaskan bahwa klien kita tidak ikut secara bersama melakukan penganiayaan yang menyebabkan kematian napi Rahmatsyah,” katanya.

Pun demikian, selaku penasehat hukum terdakwa, pihaknya akan melakukan pembelaan hukum atas kliennya.

Sementara tim JPU, Bambang mengatakan, bahwa selaku Ka Rutan, terdakwa telah pembiaran keributan, penganiayaan hingga menyebabkan matinya napi Narkoba Rahmatsyah.

Sebelumnya, hasil penyidikan personil Polres Humbahas, motif pembunuhan ini, dikarenakan ketidaksenangan warga binaan Rutan Kelas II B Humbahas melihat korban diduga suka membuat onar di rutan.

“Motif ini karena korban suka membuat onar, jadi kemungkinan tidak membuat suka kepala rutan, akhirnya dua tersangka yang berstatus napi dan pegawai rutan menganiaya korban hingga meninggal dunia,” kata Kasat Reskrim Polres Humbahas, AKP Jonser Banjarnahor.

Menurut Jonser, pelaku pembunuhan ini terungkap setelah pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi dan hasil gelar rekontruksi yang dilaksanakan di Rutan. “Jadi hasil rekon yang kita lakukan, maka kepala rutan kita tetapkan jadi tersangka bersama tiga tersangka lainnya,” imbuhnya.

Dari pemeriksaan, keempat pelaku ini melakukan masing-masing cara. Dua napi memukul sementara sahril diakui hanya menampar korban. Sedangkan, mantan kepala rutan hingga sudah ditetapkan jadi tersangka tidak mengakui ada berbuat dan menyuruh perbuatan tersebut.

“Setelah kita tetapkan tersangka si kepala rutan, dia sampai saat ini tidak mengakui perbuatannya. Namun, dalam pemeriksaan kita buat dia (mantan kepala rutan) sebagai turut membantu dalam kasus pembunuhan ini,” pungkasnya.

(Sg-02)

About Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top