Home / AGAMA & BUDAYA / Renungan Minggu: Berkatilah Siapa Yang Menganiayamu dan Jangan Mengutuk

Renungan Minggu: Berkatilah Siapa Yang Menganiayamu dan Jangan Mengutuk

Share This:

FERNANDO STGOleh Fernando Sitanggang, SH.,MH

SAMOSIRGREEN.com – Sikap mengampuni adalah sebuah sikap hati yang mulia yang diinginkan oleh Tuhan untuk kita lakukan, sama seperti perintahnya dalam Doa Bapa Kami, ketika kita hendak memohon pengampunan, maka kita sebagai manusia diminta lebih dulu mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita.

Perintah Nya pun kembali diperjelas dalam Kitab Roma 12:14, yang mengatakan “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!”

Ternyata kita bukan hanya diminta untuk mengampuni saja, tapi juga sekaligus memberkati dan jangan pernah ada keluar perkataan mengutuk apapun.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana pergumulan sebuah hati untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita ?

Apalagi rasa sakit yang kita terima bukan hanya rasa sakit didalam hati, namun rasa sakit secara fisik yang menjurus kepada sebuah penganiayaan yang dialami tubuh.

Pastilah amat sulit bagi kita untuk melakukan sebuah pengampunan bagi mereka yang telah menyakiti. Adalah manusiawi juga bila ada perkataan mengutuk dan keinginan membalaskan rasa sakit itu kepada pribadi yang telah menyakiti kita.

Dan bagi beberapa orang yang dahulunya begitu dekat dan saling mengasihi, baik karena sebagai kekasih, suami dan istri ataupun hubungan darah dalam satu keluarga, ketika rasa sakit itu mendera yang kita terima dari mereka, keinginan untuk berucap rasa kekesalan pun kadang masih tetap akan keluar dari diri kita.

“Dang tarjalo au pambaenan muna on, accit rohaku dibahen ho. Dang boi humaafon ho, pajumpang di tano narara ma hita,”.

Ungkapan diatas pun bahkan kadang sering terdengar disekitar kita, khususnya ditengah masyarakat Batak.

Namun, Firman Tuhan adalah Ya dan Amin. Sebagai hambaNya, kita tetap harus melakukan pengampunan bagi siapapun yang menyakiti kita.

Tidakkah kita pernah membaca dan mendengar perjalanan penderitaan Tuhan Yesus untuk memikul salib dalam kejamnya penganiayaan yang diterimanya menjelang kematianNya?

Penderitaan Yesus Kristus menuju kematianNya tidak terjadi begitu saja yaitu ketika tentara romawi menghunuskan tombaknya kerusuk Yesus Kristus, bahkan lebih dari itu.

Bila dihitung, proses penderitaannya berlangsung sekitar 17 jam dari mulai ditangkap di Taman Getsemani, kemudian dibawa menghadap Kayafas dihadapan Mahkamah Agama Yahudi. Lalu dibawa kehadapan Pilatus sampai sampai akhirnya diseret ke Bukit Golgota untuk disalibkan.

Ketika proses mencari-cari kesalahan Yesus Kristus dan menghakiminya dengan tanpa mengedepankan asas praduga tak bersalah layaknya proses peradilan saat ini, kesemuanya itu dibarengi dengan siksaan fisik yang maha berat.

Pemukulan, pencambukan harus diterimanya bahkan dengan cambuk yang bergerigi sangat tajam yang ketika dicambukkan kedalam tubuh, bukan hanya berbekas tapi dapat mengelupas daging dari  kulit seseorang yang terkena cambukan tersebut.

Dan jangan lupa, Salib yang begitu berat pun harus dipikulnya sepanjang lebih dari 5 kilometer, serta pengolok-olokan tanpa ada rasa iba sama sekali.

Tapi, apa sikap Yesus Kristus ketika menerima semua rasa sakit hati dan rasa sakit fisik ini. Apakah Dia sakit hati dan langsung menghukum dan mengutuk pelaku penganiayaan terhadap diriNya? Padahal sebagai Tuhan, Dia berhak melakukan pembalasan dan penghukuman terhadap semua pelaku penganiayaan itu.

Ternyata tidak!  Yesus Kristus tidak melakukan semua sikap rasa sakit hati apalagi melakukan pembalasan dan penghukuman terhadap mereka. Justru sebaliknya, Dia melakukan sikap pengampunan dan mendoakan mereka.

“Ya Bapa, Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34)

Sebagai hambaNya yang percaya kepada Yesus kristus, selayaknya lah kita juga melakukan apa yang dilakukanNya.

Proses pengampunan harus kita lakukan terhadap setiap orang yang bersalah kepada kita. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketika kita mampu melakukan pengampunan, justru lebih berguna bagi yang melakukan pengampunan itu sendiri. Mengampuni sangat baik bagi kesehatan jiwa karena dapat mengeluarkan akar pahit dari dalam tubuhnya. Akar pahit inilah yang diduga dapat menyebabkan penyakit dalam tubuh yang sering merenggut jiwa seseorang seperti penyakit Kanker dan Stroke.

Jangan pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, apalagi menuntut pembalasan atas kejahatannya, karena hanya Tuhan lah yang berhak untuk menuntut pembalasan itu.

Tahukah anda, bahwa disaat kita melakukan pengampunan dan memberi seteru kita makan ketika mereka lapar, maka justru kita akan menumpukkan bara api diatas kepalanya. Bara api ini akan menerangi pemikirannya sehingga dia sadar atas perbuatannya dan pada akhirnya berbalik dari jalannya yang salah.

Ampunilah, maka kau akan diampuni. Ampunilah, maka akar pahit akan keluar dari tubuh. Akar pahit yang kronis dan menahun dalam tubuh akan menimbulkan penyakit nyata dalam kehidupan keseharian kita.

Dan, sampai berapa kali kita harus mengampuni orang lain? Ternyata tidak ada batasan untuk mengampuni. Dalam Matius 18:21, Tuhan Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Selamat Hari Minggu, Selamat Menikmati Hari Tuhan dan Selamat Mengampuni, Tuhan Memberkati semua UmatNya.

 

 

About Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top