Home / AGAMA & BUDAYA / Cerita di Balik Na Niarsik, Makanan Khas Batak yang Melegenda

Cerita di Balik Na Niarsik, Makanan Khas Batak yang Melegenda

Share This:

Kuliner, SAMOSIRGREEN. com – Kuliner di Indonesia memang sangat beragam, dari setiap daerah memiliki ciri khas makanannya sendiri. Ketika budaya Barat sudah mulai menjajah gaya hidup orang Indonesia, banyak kuliner khas Indonesia yang mulai tergeser.

Namun, tidak sedikit juga orang yang masih mempertahankan kuliner Indonesia. Seperti halnya dengan Na Niarsik salah satu makanan khas Batak yang masih banyak belum diketahui padahal sudah ada sejak lama.

Ikan Arsik atau bahasa aslinya disebut Na Niarsik adalah kuliner tradisional khas Toba yang kaya dengan bumbu dan rempah. Makanan ini kaya akan cita rasa tinggi, tetap sehat dan alami, tidak mengandung MSG.

Penamaan makanan Batak sebagian besar didasarkan pada proses memasak. Na Niarsik berarti di-marsik-kan atau dikeringkan. Dengan kata lain, Dekke Na Niarsik, ikan yang dimasak terus-menerus sampai kuahnya kering, bumbunya menyerap ke ikan mas tersebut.

Jika proses memasak benar, Na Niarsik dapat bertahan 2 hari tanpa basi. Selain Na Niarsik, masakan khas Batak lain yang dinamakan berdasarkan proses memasaknya antara lain Na Tinombur, Na Niura, dan Na Nigota.

Menurut Ketua Akademi Gastronomi Indonesia, Vita Datau Messakh, Na Niarsik adalah makanan yang menjadi bagian dari adat Batak yang memiliki cerita dari mulai kelahiran, perkawinan, hingga meninggal.

Na Niarsik itu penting dalam upacara adat Batak, terkait dengan siklus kehidupan. Angka ganjil mempunyai arti sendiri dalam acara adat hantaran Ikan arsik dimana jumlah ikan mempunyai makna.

“Satu ekor diperuntukan bagi pasangan yang baru menikah. Tiga ekor diperuntukkan bagi pasangan yang baru mempunyai anak. Lima ekor diperuntukkan bagi pasangan yang baru mempunyai cucu. Tujuh ekor diperuntukkan bagi pemimpin bangsa Batak. Itu adat mereka,” ungkap Vita yang dilansir Tobatabo dari Facebook Kementerian Pariwisata.

Konon, di dalam memberikan Na Niarsik ini ada aturan yang perlu dipatuhi. Tidak sembarang orang bisa memberikan Na Niarsik. Hanya hula-hula atau kerabat dari pihak istri saja yang boleh memberikan, baik itu orang tua kandung, saudara laki-laki pihak istri, atau komunitas marga pihak istri.

“Karena kuatnya budaya di makanan ini, maka pemilihan ikan mas atau dekke juga sangat khusus, yang terbaik ikan mas berwarna merah,” paparnya.

Bumbu Na Niarsik, kata Vita, sangat kaya dan beragam. Ada 16 macam bumbu dari andaliman, bunga kencombrang dan bawang batak, yang menjadi masakan itu spesial.

Cara mengolahnya seperti masakan ikan pada umumnya setelah dibersihkan dan dicuci ikan segar dilumuri jeruk untuk membuang bau amisnya.

Setelah bersih perut ikan, diisi dengan Lokio atau Bawang Batak dan kacang panjang. Proses masaknya sendiri adalah menyatukan ikan dengan semua bumbu-bumbu hingga masak dan menjadi sedikit mengering. Karena itu istilahnya, ikan dimasak kering.

Sepintas, arsik ini seperti ikan masak bumbu kuning yang ditemui hampir di berbagai daerah di Indonesia. Tetapi soal rasa, Na Niarsik mempunyai tekstur dan rasa yang berbeda.

“Ada pengaruh andaliman, kecombrang dan bawang batak yang memberikan cita rasa khas dan hanya ditemui di tanah Batak,” jelas dia.

“Cerita di balik Na Niarsik adalah kekayaan budaya kuliner yang bisa dikatakan sebagai kekayaan gastronomi Indonesia. Gastronomi adalah sebuah ilmu dan seni yang mempelajari kebiasaan makan makanan yang baik lokasi atau daerah tertentu” tutup Vita ( siantarnews. com )

About Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top